bg-wppd-2016.jpg

Lebaran Lubang Jarum 2016

Minggu 24 April 2016, – Lebaran (Hari Raya) Lubang Jarum kali ini seru banget… Rencananya titik temu dipusatkan di Gedung Sapta Pesona. Kebetulan temans dari Toraja dan Makassar ( Endy Allorante, Hariandi Hafid, Achmad Lutfy) sedang “sibuk” di Jakarta dan dari Banten (Arifin Noer la Galigo) juga datang bertamu. Sayang kami kurang gaul jadi tidak tahu bahwa saat itu gedung sedang di booking tiga ribu peserta Karnaval Jalan Cantik dan Keren Etnik Nusantara 2016. Jadi Jalan Medan Merdeka Barat dan sekitaran Bundaran Patung Kuda full manusia. Hari Kartini kali ini dirayakan dengan pawai berbagai pakaian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia diantaranya Betawi, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Tionghoa. Pertunjukan marching band, Liong dan Barongsai, pentas pentas penyanyi cilik juga meramaikan acara tersebut. Jadi, motor dan mobil hanya bisa sampai kedutaan Amerika dekat stasiun Gambir. Mau tidak mau pukul 6 pagi itu kami harus turun dari mobil dan sedikit berolah raga mengangkut tenda kamar gelap, perlengkapan dan bahan KLJ, menuju Gedung Sapta Pesona. Jalan pagi tersebut cukup menggembirakan karena saya dan Raden Kania berhasil menggoda para bikers yang menyerobot trotoar yang diperuntukan bagi pejalan kaki dengan menghalang-halangi laju mereka dengan berjalan sempoyongan sambil membawa boks plastik besar berisi peralatan KLJ… :) . Sesampainya di patung MH Tamrin, baru 15 menit kemudian muncul balabantuan dari SMK Negeri 9.

wppd-2016-1

Tentu saja rencana mejeng di halaman dalam dibatalkan dan kami putuskan untuk bukalapak di trotoar depan gedung.

wppd-2016-2

wppd-2016-3

Hampir saja kami kena gusur SatPol PP gegara mas Priadi Soefjanto Full sangat serius memberikan penjelasan membuat kamera dari kaleng hingga terlihat seperti tukang ramal jalanan :)

wppd-2016-4

Beruntung KLJ mengajarkan kita untuk bisa melobi apapun (terutama saat kaleng disangka bom saat akan memotret :) )…. Lobi berhasil, “selamet deh” tidak jadi digusur.

wppd-2016-5

wppd-2016-6

wppd-2016-7Saat itu banyak yang berkunjung. Mulai dari senior fotografer seperti (ahlinya kamar gelap) Pak Fendi, desainer dari rekan-rekan alumni Seni Rupa, pewarta, hingga peserta karnaval. Yang paling membahagiakan peserta karnaval di bundaran Patung Kuda rela difoto menggunakan KLJ padahal harus menahan nafas minimal 15 bilangan bahkan harus dijemur di terik kota Jakarta dan tanpa bertanya: “Jadi nggak ya???”

Tapi memang KLJI masih seperti makhluk aneh sehingga banyak yang terpukau melihat kami beraksi, bahkan ada seorang bapak yang mungkin mengantar istri atau anaknya mengikuti karnaval, tiba-tiba memberikan jatah boks konsumsinya.

Karena KLJ bukan alat yang sempurna jadi KLJ bisa mengajak kita untuk berada dalam suatu ruang yang cukup luas untuk olah pikir, olah rasa dan olah fisik. Namun ruang itu harus kita penuhi dengan aksi-aksi nyata. Sesungguhnyalah, KLJ menawarkan pemanjaan idealisme yang luarbiasa. KLJ menawarkan seni proses yang sangat melelahkan, tapi juga sangat mengasyikkan. Maka sangat pantas jika KLJ digunakan sebagai kendaraan untuk “pendidikan” dan juga “seni”. Hingga kini KLJI sudah meng-Inovasi kamera sekitar 80 jenis. Pantas jika Leonardo Da Vinci menyatakan: “Siapa yang akan percaya dari sebuah lubang kecil, kita dapat melihat alam semesta“.

wppd-2016-8

wppd-2016-9Hunting menggunakan KLJ terus berlangsung hingga bubaran pawai.
Terimakasih buat…. iNews cable yang sudah meliput, juga dari berita online (tapi saya lupa namanya…. maaf). Sebetulnya juga saya mau mohon maaf kepada radio Sonora karena sehari sebelumnya seharusnya mengisi siaran komunitas, namun hape saya hilang dan belum sempet ganti, hingga komunikasi jadi terbatas…. Beruntung radio Dreamers pun meminta untuk mengisi acara wawancara komunitas. Lalu diputuskan yang mewakili KLJI adalah, Nur Hasanah, Agustim Saptono Haji, dan Matahari Damar Boemi.

Ada kisah kecil usai hunting foto. Nur Hasanah sebelum wawancara menitipkan ransel berisi lensa, eksternal hardisck, 3 memory card 32 giga, dan yang lainnya. Namun pada saat bubar ransel terselip diantara barang-barang milik orang lain…. nah, lalu tertinggal. 4 jam kemudian baru teringat saat Nur menanyakan ranselnya…. Lalu ambu Ati Bachtiar balik ke lokasi bersama Achmad Lutfy… Keajaiban terjadi. Ransel sepertinya diselamatkan oleh pemulung yang kami beri botol-botol bekas minuman tadi siang….. Subhanallah.

wppd-2016-10

wppd-2016-11

Sepertinya Lebaran KLJ tahun ini seru “banget” karena di Jogja KLJI hadir di acara Jagongan Media Rakyat 2016 (JMR), 21 hingga 24 April 2016, yang mengambil tema “Menganyam Inisiatif Komunitas” di Jogja National Museum. Kebetulan tahun ini JMR memberi ruang bagi komunitas lubang jarum untuk berpamer foto. Kesempatan tersebut di respon oleh KLJ Jogja dengan mengadakan sebuah mini exhibition.

wppd-2016-12

Kang Irman Ariadi dan Briliyant Syarifudin A dari KLJI Jogja dan KOPPI (Keluarga Old Photographic Process ISI) lalu menggagas pameran pegiat lubang jarum seluruh indonesia 2016 dengan mengambil tema SUKA SAMA SUKA. Sebuah pernyataan yang saat ini syarat dengan berbagai kontroversi dalam masyarakat Indonesia namun tidak dengan pegiat lubang jarum. Tema ini mengangkat kesetaraan bagi para pegiat lubang jarum, dimana batas, ruang dan waktu tidak menjadi penghalang bagi KLJI untuk terus berkarya.

Karya Irman Ariadi

Karya Irman Ariadi

Juga digelar workshop di Ruang Televisi Jogja National Museum. Judul yang disajikan adalah : Foto Melihat Indonesia dari Lubang Jarum (Klj Jogja) dan Old Processing Photography Technique for Heritage (KOPPI). Diskusi ini ditayangkan di youtube… (tapi duh… lebih asyik kalo diedit dulu tuh… masa berita konsumsi dimasukin? …kamera geser dong ke presentasi…. nah, apalagi pada saat mic-nya mati :) …..tapi gpp deh, ini kan tayangan celoteh sejujurnya ya? :) )

wppd-2016-14Di Trenggalek, Jawa Timur. Tri Yulik S Tirex, pegiat KLJ angkatan lawas Klji Malang 2002, mulai bangkit kembali dgn mendeklarasikan KLJI Trenggalek dan menggelar pelatihan Kamera Lubang Jarum.
Dari sekitar 20 kali percobaan menggunakan belasan kamera lubang jarum tadi, kata Tirex hanya sekitar tujuh kamera lubang jarum yang berhasil membentuk gambar dengan objek bangunan pendopo Kabupaten Trenggalek serta tugu dan tulisan “Trenggalek” yang menjadi ikon daerah tersebut. “Tidak apa-apa gagal. Karena dalam KLJ peserta dilatih untuk olah rasa, olah fikir, dan olah raga sehingga saat menggunakan kamera dengan teknologi lebih canggih seperti sekarang, logika dasar sudah bisa menyesuaikan,” ujarnya.

wppd-2016-15

karya KLJ tri yulik – Trenggalek the rock city

wppd-2016-16

wppd-2016-17

Di Bekasi, PINHOLE Bekasi berburu foto di situs Batujaya, Karawang, Jawa Barat.
PINHOLE Bekasi di situs Batujaya

wppd-2016-18
Di Bali, Vifick Bolang bersama komunitas Semut Ireng mengangkat lagi kalengnya untuk hunting ke Tenganan Karangasem.
Vifick Bolang dan Komunitas Semut Ireng di Tenganan Karangasem, Bali.

wppd-2016-19

wppd-2016-21
Di Pekalongan, @klji Pekalongan hunting di sekitar rumah mas Budi Purwanto dan yang menarik Benbella Muhammad menggunakan Pinhole Blender 4 lubang.

wppd-2016-22

Di Bengkulu, seperti dilaporkan RedAksiBengkulu.com bahwa KLJI Bengkulu menggelar hunting bareng di Makam Inggris Kelurahan Jitra, Kota Bengkulu.

Di Purwokerto Hieroniemus Kusumatmo Herminarto merayakan Lebaran Lubang Jarumnya dengan “ngebolang” ke sungai sendirian sambil nyari yuyu (kepiting sungai) lalu mendokumentasikan tetangganya yang baru menanam padi di sekitar rumahnya….

wppd-2016-24
……..dan banyak lagi yang tak tercatat…..
Hanya untuk mengingatkan kepada seluruh pemain Lubang Jarum, bahwa rencananya pada bulan Agustus 2016, kita akan mengadakan Pameran Bersama Pinhole Jepang atas prakarsa Master Pinhole Jepang Yasu Suzuka …..

#salam5jari untuk kebersamaannya selama ini

Ray Bachtiar DradjatLebaran Lubang Jarum 2016
Share this post

Join the conversation